Ahlan Wa Sahlan yâ Qadhayâ

16 10 2008

Demikian status message Aa kemarin dan dua hari yang lalu status message Iyam. Hmm, ada apa gerangan dengan kata-kata itu? Kemarin sebenarnya sudah penasaran, tapi tak kutanyakan karena satu dan lain hal. Rupa-rupanya itu adalah perkataan Ustadz Reza M. Syarief yang berarti, “Selamat datang masalah.”

Aneh? Sejujurnya ngga sih kalo buat saya mah. Iya pernah denger kata-kata itu. Ternyata emang diputer di MQ. Berbicara mengenai masalah yang kita alami sehari-hari.

Lalu mengapa harus menyambutnya? Disambut atau tidak ya masalah akan tetap datang dengan satu misi yang diembannya, mendewasakan kita. Coba deh perhatikan, apakah semakin hari semakin dewasa dan bertambah masalah atau tidak. Jika bertambah dewasa dengan bertambahnya masalah sejajar, maka kita sudah berhasil melaksanakan misi masalah. Nah lain lagi kalo yang makin tua malah makin kaya anak kecil, wah tau deh kalo yang kaya gituh.

Nah, begitu juga dengan kuliah. PR dan tugas itu suatu keniscayaan. Ga ada kata ga bisa selama kita mau mencoba. Ga ada kata ga mungkin selama kita masih percaya Allâh yang punya kuasa. Lalu, kenapa harus terbebani dengan PR dan tugas? Itu untuk membuat kita belajar. Tinggal jika kita menganggap PR dan tugas de-el-el itu adalah masalah, kembali ke perkataan sebelumnya..masalah itu untuk mendewasakan kita. Hadapi aja. Karena masalah pasti datang. Hadapi, hayati dan nikmati itu kan pesan Aa Gym?!

Jadi, Ahlan Wa Sahlan yâ Qadhayâ!!!





Jadilah Ilmuwan Muslim

15 10 2008

Jika mau menelaah, Islam memiliki banyak sekali ilmuwan muslim di hampir seluruh bidang yang kita kenal saat ini. Namun, tak jarang sebagai seorang muslim kita tak tahu mengenai itu semua. Bahkan sudah terlalu lama dicekoki nama-nama ilmuwan yang notabene barat. Tidak salah memang, hanya saja sebagai seorang muslim kita seharusnya mengenal agama kita termasuk mutiara-mutiara yang ada di dalamnya. Itulah yang dilakukan para ilmuwan muslim, menemukan mutiara Islam. Dan malah ilmuwan yang kita kenal dengan nama barat itu seringkali sebenarnya adalah seorang muslim, karena mereka (barat, red) tidak dapat melafalkan nama ilmuwan muslim tersebut yang seringkali berasal dari timur tengah.

Al-Quran terlalu kaya untuk dikaji karena ia berasal dari Sang Pencipta Alam Semesta. Al-Quran takkan pernah habis dijelajahi karena ia mengandung banyak rahasia kehidupan tak berbatas. Oleh karena itu, tak sedikit kaum muslim yang menjadi ilmuwan karena mereka mempergunakan akal yang dikaruniakan Allâh kepadanya. Ia selami al-Qurân, perhatikan alam dan menjadilah mereka cendikiawan yang malang melintang di dunia sains.

Contohlah Omar Khayyam di bidang matematika dan astronomi, Al-Zahrawi di bidang kedokteran spesialis bedah, Al-Kindi, Ibn Sina, Al-Khawarizmi, dan masih banyak lagi ilmuwan muslim lainnya yang akan membuat kita bersemangat untuk menelusuri ilmu pengetahuan dan menjadi ilmuwan muslim next generation. Lalu berkatalah, We are mujaddid of the century!!!

Allâhu akbar!!!





Semangat Laskar Pelangi

13 10 2008

Hmm..udah nonton film Laskar Pelangi belum? Atau minimal baca novelnya deh. Gimana pendapat temen-temen? Mmm, sejujurnya saya tidak mengharapkan jawaban “rame”. Kenapa? Karena itu hanya pendapat biasa. Lalu yang luar biasa apa dong jawabannya? Saya ingin jawaban mengenai semangat dari novel itu.

Laskar Pelangi (LP) memuat pesan moral bahwa yang miskinpun berhak mendapat pendidikan, selain itu belajar untuk melihat sesuatu dari kacamata positif. Semangat belajar. Itu pesan yang ingin sa tekankan dalam tulisan ini. Ya, semangat belajar. Mereka tak peduli sekolah mereka dah ampir ambruk. Mereka ga peduli apakah guru mereka banyak atau sedikit. Tak juga peduli apakah mereka memiliki buku atau tidak. Tapi semangat mereka belajar dapat menutupi kekurangan itu.

Murahnya biaya tak jadi alasan untuk bermalas-malasan. Tak lantas berkata, “Serasa kurang perjuangannya.” Hanya orang-orang yang tak bersyukur yang mengatakan itu [maaf kalo terkesan kasar]. Ya, memang bagi sebagian orang itu benar, tapi bukan dan tak pantas dijadikan pembenaran untuk menyia-nyiakan kesempatan dari Allâh.

Saya hanya ingin mengatakan, meski dari segi bangunan kampus kita ga bagus, meski dari segi biaya sangat murah dan dari segi reputasi pun kalah jauh, tapi kita memiliki dosen-dosen berkualitas dan tentunya mahasiswa yang juga berkualitas. Tantangan jangan dijadikan alasan untuk menyia-nyiakan kampus kita, menyia-nyiakan kesempatan dari Allâh. Padahal masih banyak di luar sana yang untuk sekolah saja di bawah jembatan [seperti di Depok] dan bahkan tak mampu untuk kuliah. Kampus kita butuh bantuan, ingat banyaklah memberi bukan menerima. Jadi bersemangatlah kuliah. Seperti semangat para anggota Laskar Pelangi dalam menuntut ilmu.

Wallâhu a’lam bishshawwâb








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.